Terima Kasih Telah Berkunjung di Blog Saya, Semoga Postingan Saya Bisa Bermanfaat Bagi Kalian ^^

Hancurnya Radius dan Ulna (Cerpen)


.


Hancurnya radius dan ulna
Oleh: Ayyub Al Azheem

Suatu senja di bawah pohon yang rindang, tampak sepasang kekasih duduk bersama. Mereka tengah menikmati indahnya matahari yang tengah menuju persinggahan. Mereka ini adalah seorang pasangan kekasih yang serasi dan hampir tak terpisahkan seperti layaknya tulang radius dan ulna. Cowok itu bernama Deus, sedangkan ceweknya bernama Luna.
            “Deus, lihatlah matahari di sana. Indah sekali” kata Luna sambil menunjuk ke arah matahari yang hampir terbenam
            “Iya indah sekali, tapi sayang ia harus terbenam. Setelah ini dunia gelap akan datang” sambung Deus
            “Bagaimana jika ibarat aku adalah matahari, lalu aku terbenam meninggalkanmu dan tak akan terbit lagi?” tanya Luna
            “Ibarat aku adalah tumbuhan, tentu aku tidak akan membiarkanmu terbenam, karena tanpa hadirmu aku tidak akan pernah bisa hidup” lanjut Deus
            “hehe bisa aja kamu, udah mulai gelap nih langitnya. Kita pulang yuk?” kata Luna yang melihat langit semakin gelap.
            “Ya udah yuuk..” lanjut si Deus
            Kemudian Deus mengantarkan Luna pulang ke rumah menggunakan motor miliknya. Setelah sampai di rumah Luna, Deus langsung pamit pulang karena maghrib telah tiba.
            “Luna, aku langsung pulang saja yaa” kata Deus
            “Iya deh, hati-hati yaa” jawab Luna sambil melempar senyum ke arah Deus.
            “Iya, besok pagi jalan lagi yuk? aku jemput kamu ya?”
            “Iyaa oke deh, sampai jumpa besok” kata Luna sambil melambaikan tangannya kepada Deus
            Malam itu Luna yang notabene adalah seorang yang pandai melukis, tengah melukis sebuah gambar untuk kado ulang tahun kekasihnya, si Deus esok hari bertepatan tanggal 20 November. Ia menggambar sebuah tulang radius dan ulna yang mengibaratkan kedekatan mereka yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
            Esok harinya, Deus tengah bersiap-siap menjemput Luna motor kesayangannya. Ia tidak tahu kalau Luna telah mempersiapkan kado untuknya. Namun, ditengah perjalanan menuju rumah Luna, Deus tertabrak truk yang berkecepatan tinggi. Ia jatuh tak berdaya berlumuran banyak darah.
            “Duuaaarr…!!” suara tabrakan terdengar begitu kerasnya
            “Heei lihat ada tabrakan !” kata salah seorang yang berada disekitar jalan itu.
            Kemudian Deus segera dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang berada disekitar situ. Sementara itu Luna yang tengah menunggu jemputan dari Deus dengan gelisah.
            “Si Deus mana sih? Lama banget, jadi jalan gak sih ini? Padahal aku sudah nyiapin kado untuknya” kata Luna dengan bergumam
            Deus yang sedang berada di rumah sakit mencoba menahan rasa sakit dan mengatakan sesuatu kepada suster, “Suster tolong ambil hp saya, hubungi Luna kekasih saya. Kasih tau dia aku gak bisa jemput dia pagi ini” kata Deus. Beberapa saat kemudian Luna dihubungi oleh pihak rumah sakit.
            “Haloo. . .” kata Luna
            “ya Halo, benar ini nomor Luna?” kata suster
            “Iya benar, ini siapa ya?” tanya Luna
            “Kami dari pihak rumah sakit Daerah ingin memberitahu bahwa saudara Rayhan Deus kecelakaan, sekarang berada di ruang operasi karena lukanya sangat parah” jelas suster
            Luna yang terkejut dengan kabar itu langsung menutup telepon dan menuju ke rumah sakit dengan membawa kado yang telah ia persiapkan untuk Deus. Sesampainya disana ia menunggu berjam-jam sampai operasi si Deus selesai. Kemudian seorang dokter keluar dari ruangan operasi.
            “Dok.. dok.. gimana keadaan Deus?” tanya Luna dengan panik
“Deus mengalami patah tulang kiri dan kaki kirinya lumpuh total” jelas dokter
“Apa? Lumpuh?” kata Luna dengan sangat terkejut
Luna lalu menjatuhkan kado yang ia bawa dan ia lari tak jelas kemana dia pergi. Hingga beberapa saat kemudian, Deus tersadar dari kondisi kritisnya.
“Suster, Luna sudah dikasih tau?” tanya Deus dengan nada yang sangat pelan
“Oh sudah sadar yaa, iya sudah. Tadi dia kesini tetapi langsung pergi entah saya tak tau kemana setelah dokter bilang kalau kaki kamu lumpuh” jelas suster itu
“Dia pergi?” kata Deus dengan lirih.
Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Kemana matahariku pergi? Aku akan mati disini, sungguh aku tak mengira ia bakal pergi. Sekarang radius dan ulna tak lagi bersatu, tumbuhan pun akan mati tanpa matahari”
Beberapa saat kemudian, Deus menghembuskan nafas terakhirnya. Sungguh malang nasibnya ditinggal kekasihnya pergi disaat ia sedang kritis.

Pesan Terakhir Ayah (Cerpen)


.


PESAN TERAKHIR AYAH
Oleh : Ayyub Al Azheem

          Pagi itu tak secerah pagi-pagi sebelumnya. Langit yang kelam dan awan tebal menutupi mentari yang biasanya menerangi bumi. Guntur yang menggelegar melengkapi suasana pagi yang  menyeramkan seakan hendak terjadi bencana.
          Mutia yang tengah mengenakan seragam OSIS SMA sedang sarapan bersama ayahnya. Mereka sudah 16 tahun hidup berdua karena ibunya Mutia telah dipanggil Sang Kholik ketika melahirkan Mutia. Mereka hidup ditengah kesepian setiap harinya.
          “Yah, Mutia nanti pulangnya agak sore ya?” kata Mutia sambil mengunyah makanannya.
          “Ada acara apa kok pulang sore?” tanya ayahnya.
          “Mau belajar kelompok di rumahnya Erlina, Yah” jawab Mutia
          “Ya sudah, pulangnya jangan sampai maghrib ya! Belajarlah yang rajin, kamu satu-satunya harapan ayah, jangan seperti ayahmu ini yang Cuma jadi seorang loper Koran, wujudkan dan raih cita-citamu, Nak!” nasihat ayah Mutia.
          “Iya, Yah !” jawab Mutia.
          “Ya sudah sana berangkat, nanti terlambat! Jangan terburu-buru di jalan, di luar hujannya masih lebat” kata ayah Mutia.
          Kemudian Mutia berangkat ke sekolah dengan sepeda bututnya sambil mengenakan jas hujan. Kebetulan jarak rumah Mutiadengan sekolahnya tidak terlalu jauh. Mutia berangkat dengan penuh semnangat meskipun hujan lebat serta guntur yang keras menghalangi perjalanannya.
          Baru saja Mutia meletakkan sepedanya di area parkir sekolah, terdengar tanda bel masuk. Ia bergegas melipat jas hujan yang deikenakannya tadi. Langsung saja Mutia menuju ke kelasnya.
          “Hai teman-teman, selamat pagi !” sapa Mutia kepada teman-temannya sambil menenteng sepatunya.
          “Hai Mutia, tumben kamu berangkat agak siang?” tanya Erlina, teman sebangku Mutia.
          “Iya nih, hujannya lebat sekali.” Jawab Mutia sambil memakai sepatunya.
          “Ngomong-ngomong sudah selesai semua tugas-tugasmu, Mut?” tanya Erlina.
          “Sudah dong, semalem aku lembur sampai jam 11” jawab Mutia.
          “Widiih rajin amat kamu, Mut!” puji Erlina kepada Mutia.
          “Iya, aku tidak ingin mengecewakan ayahku, apalagi tadi waktu sarapan aku diberi nasihat oleh ayahku. Aku jadi semakin semangat untuk sekolah.” Jawab Mutia.
          “Iya deh aku percaya ! Aku salut sama kamu Mut, semangatmu untuk raih cita-cita sangat besar.” Kata Erlina.
          “Hehe, doakan saja Er, aku ingin membanggakan ayahku.” Kata Mutia
          “Eh . . . udah ada Bu Maya tuh!” sahut Erlina sambil menyiapkan buku Fisika.
          “Selamat pagi anak-anak” sapa Bu Maya, guru Fisika di sekolah Mutia
          “Selamat pagi, Bu !” jawab semua siswa serentak.
          “Silahkan dipimpin doa terlebih dahulu sebelum kita memulai pelajaran hari ini.” Kata Bu Maya.
          Kemudian ketua kelas memimpin doa dan pelajaran pun dimalai. Mutia terlihat sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti pelajaran. Hingga terdengar bel istirahat, semua siswa di dalam kelas termasuk Mutia yang tadinya penuh dengan suasana serius berubah menjadi suasana yang penuh canda gurau.
          “Hei Mutia, Erlina, ayo kita ke kantin yuk !” ajak Fiona, teman sekelas Mutia yang merupakan anak orang kaya
          “Aku enggak deh, kamu aja sama Erlina. Aku ingin menabung.” Kata Mutia
          “Menabung?” tanya Erlina
          “Iya Er, uang saku setiap hari ku tabung untuk bayar SPP.” Jawab Mutia.
          “Oooh jadi selama ini kamu tidak pernah ke kantin karena ini?” tanya si Fiona
          “Iya Fi, kalian berdua saja yang ke kantin.” Kata Mutia
          “Ya sudah gimana kalau aku traktir? Ayolah, sekali-kali, Mut!” ajak Fiona
          “Aduhh gimana yaa, aku gak enak sama kamu, Fi.” Kata Mutia yang berusaha menolak ajakan Fiona.
          “Ah sudahlah tak usah difikirkan Mut, kamu juga sering membantuku dalam pelajaran kan?” bujuk Fiona.
          “Ya sudah deh kalau begitu.” Kata Mutia yang menerima tawaran dari Fiona.
Mereka bertiga menuju ke kantin sambil bercanda gurau. Tiba-tiba Mutia jatuh terpeleset.
          “Aduuh. . . .” teriak Mutia.
          “Mutia hati-hati dong, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Erlina
          “Tidak apa-apa kok.” Jawab Mutia sambil merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan.
          “Ya sudah, ayo ke kantin !” ajak Fiona.
          Sesampainya di kantin, mereka memesan makanan. Sambil menunggu pesanannya datang, mereka berbincang-bincang hingga akhirnya makanan mereka datang. Tak sengaja, Mutia menyenggol makanannya saat hendak mengambil sendok. “Tiiaaarrrr!!!” suara piring yang pecah itu menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin.
          “Aduh maaf aku tidak sengaja.” Kata Mutia dengan gugup.
          “Ya sudah Mut, pesan lagi saja.” Kata Fiona sambil tersenyum ke arah Mutia.
          “Terima kasih Fi, kamu baik sekali.” Kata Mutia dengan sedikit menahan rasa malu.
          Dalam hatinya Mutia berkata, “Pertanda buruk apa ini? Tadi terpeleset, sekarang piring pecah. Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan ayahku.”
          “Mutia? Kamu melamun ya?” tanya Erlina yang melihat mata Mutia tampak kosong tatapannya.
          “Oh enggak kok, gak ada apa-apa.” Jawab Mutia dengan gugup.
          “Ya sudah, dimakan dong makanannya !” sela Fiona.
          Hingga akhirnya jam pulang sekolah tiba, Mutia dilandai dengan perasaan yang sangat gugup dan tidak tenang seakan ada peristiwa buruk yang akan menghampirinya.
          “Er, maaf ya aku tidak jadi ke rumahmu. Aku agak kurang enak badan.” Kata Mutia.
          “Oh begitu, ya sudah istirahat saja di rumah Mut. Hati-hati di jalan ya!” kata Erlina.
          “Iya, makasih Er.” Kata Mutia sambil menggendong tasnya.
          Akhirnya Mutia pulang. Di sepanjang jalan ia terus melamun sambil mengendarai sepeda bututnya. Hingga akhirnya ia sampai di depan halaman rumahnya. Ia sangat kaget sekali melihat banyak orang mengerubungi rumahnya. Ia membanting sepedanya dan berlari ke arah rumahnya.
          “Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi?” tanya Mutia kepada salah seorang tetangganya yang berada di rumah Mutia.
          “Sabar ya Nak, tabahkan hatimu. Ayahmu dipanggil Yang Maha Kuasa.” Jawab tetangganya sambil memegang pundak Mutia.
          “Apa? Yang benar saja? Apa yang terjadi pada ayahku?” kata Mutia yang meneteskan air matanya. Ia sangat terpukul sekali mendengarkannya.
          “Ayah kamu terserang penyakit jantung, nyawanya tidak dapat tertolong lagi.” Jelas tetangganya.
          Kemudian Mutia berlari masuk ke dalam kamar ayahnya. Mutia tak sanggup melihat ayahnya terbaring tak bernyawa.
          “Ayaah, kenapa kau meninggalkanku sendirian? Apa ayah tak ingin melihat aku sukses nanti?” kata Mutia sambil menangis di depan ayahnya yang sudah dibungkus dengan kain kafan. Sementara itu, tetangganya berusaha menenangkan Mutia yang sangat terpukul atas musibah ini.
          Mutia tak pernah membayangkan, nasihat ayahnya yang ia dengar tadi pagi saat sarapan bersama adalah pesan terakhir kepadanya. Hancur sekali hatinya ditinggal pergi ayahnya. Namun, dalam hatinya ia tetap bertekad meraih cita-citanya meskipun ayahnya sudah tiada.

Kisah-ku (Puisi)


.


Kisah-ku
Oleh: Fayyad Haizam

Di malam yang sunyi ini
Ku kenang dikau
Ku kenang masa-masa indah
Saat kita bersama
            Penuh canda tawa
            Penuh suka cita
            Kisah yang indah
            Kisah yang tak terlupakan
Sampai tiba saatnya
Kita harus berpisah
Mengubur dalam-dalam
Kisah indah kita
Lelaki ini mencucurkan darah
Tapi kau tak bisa melihat darahnya
Ini hanya sebuah perasaan
Bahwa lelaki ini telah dibuang
Cuaca menjadi hujan
Sejak kita berpisah
Sekarang aku tenggelam
Dalam kesedihan di relung hatiku
Kau selalu melihatku
Seakan-akan aku petarung
Tetapi tanpa dirimu
Aku telah menyerah
Aku tak berharap apa-apa
Hanya berharap yang terbaik bagimu
Aku hanya bisa berharap
Engkau bahagia selamanya
            Aku tak pernah lupa
            Perkataanmu waktu itu
            Suatu saat berakhir dalam cinta
            Suatu saat berakhir dalam duka        

Puisi Cinta


.


TERTUTUP
Oleh : Muhammad Rizki

Hitam…
Kelam…
Pupus…
Hancur…
Kejujuran bersembunyi
Kejujuran terhalangi
Air mata menghampiri
Di akhir kisah ini
Tak ada lagi harapan
Keputus asaan telah datang
Tapi rasa ini belum juga mati
Rasa ini semakin berapi-api
Allah mengetahui yang terbaik
Allah mencoba menjatuhkanku
Tapi aku akan terus bangkit
Aku akan tetap terus berlari
Walau duri menancap dikaki
Walau duri menancap dihati
Apakah aku harus menunggu?
Menunggu yang belum pasti
Hati tidak mau berbohong
Hati ingin menunggu
Entah kapan waktu itu
Berpihak kepada ku
Masih ada teman-teman dibelakangku
Memberiku semangat tidak untuk mundur
Walau sakit yang abadi
Hati tetap ingin menanti
Apa yang pernah dimiliki

Puisi


.


KEPRIBADIAN GANDA
Oleh: Ayyub Al Azheem

Tikus-tikus negara kian merajalela
Bukan padi mangsa mereka
Manusia kecil seperti kami ditindasnya
Bukan main sakitnya hatiku
            Niat hati ingin kubasmi mereka
            Aku yang akan menjadi pestisida
            Tapi siapa aku ini
            Mencari ilmu saja sulit
Aku selalu termenung dalam kesepian
Di tengah keramaian istana kecilku
Bagaimana aku meraih impianku
Ayah ibuku penambang emas di tempat kumuh
            Aku tak bisa terus berdiam diri
            Ingin rasanya membantu mereka
            Meringankan beban kebutuhan keluarga
            Hingga akhirnya terfikir di otakku
Aku terlalu sibuk setiap harinya
Pagi yang cerah aku datang ke gudang ilmu
Siang di bawah mentari terik yang menyengat
Aku melantunkan senandung lagu
Lampu bewarna merah dipinggir jalan seakan menjadi penolong
Dari mobil ke mobil ku lantunkan
Tak lupa tutup botol bekas sebagai senjataku
Aku tak letih meski keringatku terus mengucur
Hingga mentari kembali ke persinggahan
Aku kembali ke istana kecilku
Kembali menjadi seorang pelajar
            Ku lakukan semua ini demi hidup
            Hidup yang keras tuk gapai impian
            Inilah perjuangan hidupku
            Kepribadian ganda ku lakukan setiap hari